i live with this religious family along my college life (that means until today and several weeks after this one posted) this family has a little boy named gilba but out of nowhere he prefers to be called kakong. he is pretty much annoying; as the other boys are, growing up in a high rate curiosity that makes them throw a bunch of question. okay, that was an introduction.
this evening, he showed up in my room and told me a 'geje' story. as usual, i listened without interest.
- kakong: "teh nury, teh nury..tadi yah di sekolah kakong 2 kelas pada nangis loh pas denger puisi.aneh kan?"
- aku: "ai kakong nangis ga??"
- kakong: "nangis juga.aneh ihh gara-gara puisi ajah nangis."
- aku: (staring blankly and feeling awkward.isn't this boy also weird?! )" emang puisi apa?dari guru bahasa indonesia?"
- kakong: "bukan ih, dari temen kakong.nih dengerin gera. " (reaching cellphone to play the recording)
- aku: (listening in tears) "sedih ya kong"
- kakong: "iyah..teh nury juga nangis gening"
- aku: "iyah"
the recording was a monologue about children-parents relationship in which children are usually annoying but parents keep forgiving and so on. mostly used in a contemplating session, once i saw it in a religious event. also cried out loud at that moment. but this one hit me harder. the content was narrowed down to graduation, commencement; something i haven't been able to give to my parents..in the middle of my idleness from doing my damn paper, those words i heard seemed to be sharp-poisonous swords.
i want to have my commencement real soon..
now i know, i might not be so proud to graduate, at least i know..to my parents, my graduation is a marvelous present..
i want to have my commencement real soon..
now i know, i might not be so proud to graduate, at least i know..to my parents, my graduation is a marvelous present..
here, i transcribed the poem
Bahagiaku Surga Mereka dan Deritaku Pilu Mereka - karya Feby
Aku berdiri mengenakan toga ini di sebuah jalan setapak yang gelap. Pandanganku tertuju pada orang di kejauhan sana dengan senyuman yang tak asing di mataku. Dua orang yang sangat aku hargai. Dua orang yang sangat aku hormati, aku cintai dan aku sayangi. Ya, mereka papa dan mamaku. Dengan disertai senyuman, aku berjalan menghampiri mereka.
Seiring dengan langkah, terlintas di benakku atas apa yang telah mereka lakukan terhadap hidupku selama ini.
Mama yang telah mengandungku selama sembilan bulan. Mama yang sudah memperjuangkan hidup dan matinya hingga aku dapat hadir di dunia ini. Mama juga yang telah merawatku dengan penuh kelembutan dan kasih sayang.
Papa yang telah mendidikku. Papa yang telah rela bekerja banting tulang ikhlas mengeluarkan keringatnya agar aku bisa menikmati hidup; detik demi detik, hari demi hari, bahkan tahun demi tahun.
Apakah yang dapat aku lakukan untuk membalas mereka?
Sering aku tutup kuping gamau dengerin nasehat mereka. Sering banget aku bohong kepada mereka untuk kepuasanku. Sering aku ngelawan jika mereka marah karena kenakalanku. Sering juga aku banting pintu di hadapan mereka jika mereka tidak mengabulkan permintaanku, dan bahkan sering aku mengeluarkan kata-kata kasar yang ga pantas mereka dengar dari bibirku. "dasar cerewet!" "kuno!" "kolot!"
Tapi, apakah mereka memendam rasa dendam terhadapku? Tidak. Tidak sama sekali. Mereka dapat tulus memaafkan kekhilafanku. Mereka tetap menyayangiku dalam setiap hembusan napas mereka. Bahkan, mereka tetap menyebut namaku dalam setiap doa-doa mereka hingga aku menjadi seperti sekarang ini.
Ya Tuhan, betapa durhakanya aku! Tidak sadarkah aku bahwa mereka adalah orang-orang yang sangat berarti dalam hidupku?
Langkah-langkahku terhenti di hadapan mereka dan kupandangi papa dan mamaku inci demi inci. Badan yang dulu tegap-kekar kini mulai membungkuk. Rambut yang dulu hitam kini mulai memutih dan kulit mereka yang dulu kencang kini mulai berkeriput.
Kutatap mata mereka yang berbinar-binar dan mulai meneteskan air mata bahagia, air mata haru, air mata bangga melihatku memakai toga ini.
Kucium tangan mereka. Kupeluk mereka sambil berkata "Papa, Mama, yang aku berikan hari ini tidak akan cukup membalas semua yang telah Papa dan Mama berikan selama ini terhadapku. Trima kasih, Pa. Trima kasih, Ma. Aku sayang papa dan mama sampai akhir hayatku"
No comments:
Post a Comment